Kamis, 26 Desember 2013

Blog Jajak? Oh Jajak! Jualan!

Ya, blog ini sengaja dibuat khusus untuk menjajak alias jualan. Jajak itu adalah kata dari bahasa Melayu Pesisir di Kabupaten Pontianak, tepatnya di Kampung Tanjung dan Mengkacak. Kata ini kerap digunakan untuk arti jualan. Biasanya orang-orang Melayu di sana akan bertanya seperti ini "Eh ape yang kau jajak tu?" artinya "Eh apa yang kamu jual?"

Hanya saja, kata ini mulai hilang. Orang lebih sering menggunakan kata jualan. Jadi alasan saya menggunakan kata Jajak untuk blog ini salah satunya untuk melestarikan bahasa Melayu Tanjong, dan memiliki sejarah tersendiri untuk saya. Si Penjajak Cilik.

 Hahahaha.Saya jadi ingat, bagaimana saya berjajak dulu. Masa itu saya tinggal di Mengkacak. Saya ini dari usia 4,5 tahu gitulah sudah berjajak. Jajakan saya adalah sayur-sayuran. Terutama sayur kangkung. Rumah saya berada di pematang sawah. Pada lahan bagian depan itu ditanami berbagai sayur-mayur. Seperti; mentimun, kacang, panjang, kangkung, dan lainya saya lupa.

Mak saya yang memetik sayur dan mengikatnya, saya yang menjualnya. Saya dulu menjualnya di rumah tetangga. Ada tetangga yang sering kali saya datangi. Saya menyebutnya orang kaya. Tetangga ini selalu membeli sayur yang saya jual. Saya lupa, berapa satu ikat, tapi rasanya Rp 25. Duak Puloh Limak Ropiah. Ya, iya duak puloh limak ropiah satu ikat. Saya membawanya menggunakan baskom. Setelah dari rumah tetangga saya membawanya ke salah satu warung yang ada di kampung.

Senang sekali bisa bejajak. Bukan keuntungannya, tapi ya suka saja. Jualan habis saja itu adalah hadiah terindah dari usaha yang telah dilakukan. Hahah. Sejak kecil profesi ini sudah saya geluti. Sebelum belajar jualan sendiri, eh emang aneh ya, saya dulu memaksa untuk membawa jualan sayur itu. Ah sudah lah.

Mak saya berjualan kue roti sagu. Roti sagu itu, roti yang terbuat dari tepung sagu. Sejak saya masih dalam kandungan kalik, Mak sudah membuat roti ini, bahkan sebelum saya direncanakan untuk dibuat. Roti ini dibuat dengan waktu yang cukup lama.
Dari membelah kelapa, mengupas kulitnya, memarut, menjemur, menggongseng, lalu digiling. Giling ya, bukan dibelender. Mak ndak suka pakai belender. Halusnya beda. Lagi pula minyak dari kelapa parut itu akan beda. Wangi yang menggoda dari Roti Sagu salah satunya berasal dari kelapa giling ini.

Hemm saya suka sekali mencicipinya.

Ini baru cerita kelapa. Belum lagi, mesti membuat kole. Kole? Hahahha ya keluarganya menyebutnya kole. Kole itu tepung sagu yang dimasak dengan air. Tapi harus pandai memasaknya. Ada teknisnya. Jika salah, Kole bisa menjadi kerentel. Alias tepung menjadi beku. Tidak menjadi bubur sagu. Kerentel? Hahah itu bahasa Melayu kami lagi.

Ya suatu saat saya akan menulis lebih jelas tentang Roti Sagu. Saya cuma mau bilang karena Mak membuat roti sagu, mak jugalah yang menjualnya. Jadi saya ini sudah ikut berjualan dari kecil. Hahaha. Ini membuktikan bahwa jiwa jajak saya itu sudah ada sejak kecil. Saya tertawa sendiri menulis ini.

Sewaktu kelas 2 SD, saya bejualan es kampel. Alias kantong. Es lilin gitulah. Kantongnya memanjang, kecil, seperti paralon. Jadi diisi lalu, diikat. Ada teknis mengikatnya juga. Ikatan ini memudahkan pembeli untuk membukanya. Tari ujungnya sedikit, ikatan bisa lepas. Tapi, ikatanya sangat kuat. Kami dulu mengikatnya dari tal plastik bekas kursi. Ada tuh, kursi besi yang tempat duduknya menggunakan tali yang berasal dari plastik. Sekarang kursi itu sudah tidak ditemukan lagi. Hem, saya jadi rindu kursi itu. Ya jadi karena sudah kemajuan zaman kursi itu tidak digunakan lagi, hem kursi yang rusak itu, talinya kami ambil. Tenag talinya bersih.

Saya juga pernah bejajak Gule Tarek. Es Roti. Jambu. Betek alias pepaya. Nenas. Dan, yang paling termahsyur itu adalah Nasi Bungkos.

Wah saya sekana jadi seleb jika pagi. Saya masih di jalan saja, teman-teman SD itu sudah belari-lari mendatangi saya untuk memberli nasi. Nasi bungkos ini tidak menggunakan kertas nasi seperti sekarang yang waranya cokelat itu. Nasinya dibungkus dengan daun pisang. Dilipat berbentuk memanjang. Lalu kanan kirinya dilipat ke bawah. Jadi kawan-kawan itu lucunya, kalau membeli nasi, biasanya dibuka satu lipatan saja. Lipatan satunya lagi, dipegang. Jadi mereka jika makan, kepalanya menengadak ke atas.Seperti orang minum obat batuk sasetan, mereka memasukan nasi.  Tapi tidak langsung habislah.

Di Smp saya melanjutkan bejajak nasi. Cuma saya sakitt-sakitan saat itu dan tinggal di rumah keluarga karena tidak bisa terlalu capek untuk mengengkol sepeda dari Tanjung ke Mempawah yang lebih kurang 8 KM. Sewaktu SMA saya melanjutkan profesi tersebut. Hanya berjalan pada awal kelas X saja. Saya kembali ikut keluarga, tinggal bersamanya.


Sekian cerita masa lalu berkenaan dengan profesi jajak itu.

Di blog ini saya akan mencoba untuk bejajak. Jajakannya mungkin tidak hanya makanan saja. Beberapa keluarga ada juga yang bejajak. Jadi usaha tersebut akan saya promokan juga. Buku-buku yang saya saya tulis juga akan saya jajak di sini.


Terima kasih telah membaca tentang jajak-jajakan.blogspot.com. Salam kenal saya. Penjajak!