Menawarkan:
1. Parfum Body Shop
Parfum Body Shop dengan 12 Aroma yang soft and sweet. Parfum 30 Ml
dengan botol imut nan elegan. Tidak bikin baju kuning, tahan hingga
10-12 jam. Tapi kalau di luar ruangan, ya tergantung karena parfum
menguap terkena matahari
Harga: Rp 85.000
2. Pembalut Herbal: Hibis
Pembalut kesehatan dengan bio energy yang kuat memperbaiki sel-sel
tidak teratur, anti kuman, anti kanker, melancarkan peredaran darah.
Desain yang membuat nyaman, kuat, dan pastinya ramah lingkungan. Hibis
siang 240mm, sedangkan yang malam 295mm. Pembalut isinya 4. Pantyliner
10.
Harga: Rp 25.000
3. Parcel Seminar dan Ujian Skripsi/TA
Bingung konsumsi untuk seminar dan ujian skripsi? Khawatir bosan sama
hidangan ayaaaaaaaaaam terus. Parcel saja. Snack dan minuman. Tidak
takut basi, sudah pasti tidak bikin bosan.
Harga:
1. Paket Seminar Rp. 350.000
2. Paket Sidang Rp 550.000
Harga bisa sesuai budget pemesan. Menyesuaikan jumlah yang akan dikasi juga
4. Tas Laptop Batik
Tas cantik yang membantu kamu tidak membawa beban terlalu banyak dipunggung. Ingat, sayang tulang belakang . Ada ukuran untuk laptop 10, 11, 14 cm.
Harga:
1. ukuran 10-11, Rp 25.000
2. 14 cm, Rp 30.000
10 pemesan akan mendapatkan harga fantastik. Ayoooo!
5. Madu Asli dari Kapuas Hulu
Panas ya. Kemarau. Hujan belum turun. Mesti jaga stamina biar tetap
fit. Tidak loyo menyelesaikan tugas. Madu cocok loh untuk jaga imun
kita. Mempelancar BAB juga
Jangan tanya, "Madunya asli atau tidak?" Kami tidak mungkin berani memberi kualitas yang abal-abal.
Harga: Rp 160.0000/Kg
6. Kos Putri
Para gadis, sedang cari kos? Di Jalan Irian, nomor 29 ada tuh (Jalan
Sumatera). Sedia Kasur, Bantal, Seprei, Kipas angin, dan tikar. Air,
Alhamdulillah lancaaar teruuuuuus. Bersih, jernih, tidak bau. Rumah
nyaman, arsitektur dolok-dolok, kayu belian mament! . Aman dan tentram karena selalu ada jaga malam.
Lokasi, sudah pasti strategis. Cari apa saja mudah. Rumah makan, Kantor Polisi, Masjid, apalagi Rumah Sakit.
Harga: Rp 300.000/bulan
Info: 085750632668
atau
Ini PIN saya 31201748
jajak-jajak-an
Minggu, 26 Januari 2014
Minggu, 05 Januari 2014
HIBIS Pembalut Kesehatan (Mencegah kanker payudara dan Serviks)
Awalnya, saya sempat terheran-heran dengan harga pembalut kesehatan. Namun, saat saya mengingat beberapa kenalan yang sudah terkena kanker payudara, saya merinding juga. Dulu penyakit kanker payudara itu rasanya cuma penyakitnya orang-orang dalam sinetron. Tapi, sekarang sejak tiga tahun yang lalu saya malah mendengar kabar kenalan saya terkena.
Jujur saya merasa khawatir. Ada perasaan takut. Namun, terlepas dari itu, wajar rasanya menjaga apa yang ada pada diri kita. Allah telah memberikannya dengan lengkap dan sehat, kitalah yang menjaganya. Akhirnya saya mencoba untuk menggunakan pembalut kesehatan. Kebetulan, kakak sepupu saya menjual Hibis. Pembalut kesehatan yang mengatasi masalah kewanitaan. Saya mendapat info ini awalnya dari BC. Saya pun menggunakanya, memang harganya jauh berbeda dengan pembalut yang isi 8 harganya cuma 3-4ribuan. Hibis satu kemasan berisi empat, harganya empat kali lipat dari pembalut biasa yang saya gunakan.
Hal yang saya rasakan memakai Hibis, pertama adem, dingin, dan nyaman sekali. Saya rasa bio energy yang ada di Hibis bekerja. Bio Energy inilah yang memperbaiki syaraf yang tidak teratur, melancarkan peredaraan yang tersumbat. Saya jika hari pertama datang sering kali merasa sakit. Waktu memakai Hibis, rasa sakit itu memang masih terasa, dan maaf, warna yang saya keluarkan lebih pekat. Melihat itu saya yakin kepekatan itu adalah hasil kerja dari Hibis.
Saya setiap hari menghabiskan minimal 4 pembalut. Merasa tidak nyaman saja memakai satu apalagi di hari pertama. Saat melihat Hibis, saya sempat pesimis karena melihatnya sangat tipis. Setipis itu bisa menampung? Namun, saat saya akan membeli dengan kakak sepupu saya, kakak saya bercerita bahwa temanya di kantor kini memakai satu pembalut saja di kantor. Tidak perlu bolak-balik untuk ganti. Dia bilang volume haidnya lebih banyak sehingga biasanya dia harus sering kali ganti.Namun, memakai Hibis dia tidak perlu melakukan rutinitas itu, dia sendiri heran, dia terkagum-kagum pada Hibis. Dia berpikir kenapa tidak dari dulu kakak saya mengenalkan Hibis padanya.
Apa tidak lembab? Saya sempat berkata seperti itu dalam hati. Namun, belum lama pembicaraan saya, kakak saya bilang, bahwa Hibis tidaklah lembab. "Cobalah kalo tidak pecayak!", kakak saya meyarankan untuk mencoba dulu jika tidak percaya.
Teman kakak yang bertamu ke rumahnya, mendengar cerita kakak tadi, langsung memberi respon bahwa dia juga mengalami pengeluaran yang banyak di hari-hari pertama. Dia pun membeli Hibis. Mellihat teman kakak merasa yakin, saya pun ikut untuk menggunakanya.
Saya belum pernah melihat pembungkus pembalut seperti Hibis. Desain kemasanya cantik, benar-benar feminin. Membukanya juga tidak perlu disobek. Ada klip begitulah. Pembungkus empat hibis ini berbahan tebal. Jujur melihat kemasan luarnya, saya sudah terkagum. Namun, bagaimana bentuk hibisnya saya belum tahu karena belum membukanya.
Pesimis saya awalnya tidak hanya dari ketipisan Hibis. Saya juga khawatir dengan panjangnya. Sudah saya katakan saya biasanya memakai 2 pembalut agar saya lebih mudah bergerak, merasa tidak khawatir. Apa Hibis dengan harganya yang melebihi pembalut biasa itu bisa memenuhi kriteria yang saya inginkan? Pembalut panjang. Saya pun membukanya, ternyata dugaan saya salah. Hibis sangatlah panjang. Hibis yang digunakan pada siang hari panjangnya mencapai 240mm, sedangkan yang malam 295. Pas sekali untuk gerak saya yang tidak bisa diam. Mengendarai motor, duduk-berdiri di depan kelas, bertemu dengan banyak orang.
Sesaat akan membersihkanya, saya merasakan apa yang dirasakan oleh teman kakak sepupu saya. Hibis tidak perlu membuat kita berganti. Hibis menyerap dengan hebat. Tidak lembab, permukaanya kering. Tidak kerut pula. Aroma dari Hibis juga tidak hilang.
Saat akan mandi, sebagai orang bertanggung jawab saya selalu membersihkan pembalut lebih dulu sebelum membuang bagian luarnya. Jika begini saya memerlukan waktu yang lama untuk meyakinkan tidak ada sisa di bagian luar. Saya biasanya menyabun bagian luar bahkan menyikatnya. Meskipun itu akan berada di tempat sampah dan bertemu dengan sampah-sampah lainya, tetap saja itu kotor dan berasal dari tubuh. Saya juga khawatir dengan mahluk-mahluk yang tidak terlihat yang menyukai kotornya, atau ada mahluk yang tidak terima karena membuang kotoran itu di daerahnya. Saya pernah menyaksikan seorang remaja kerasukan. Remaja itu mengamuk karena yang memasuki dirinya tidak terima tempat tinggalnya dikotori. Waktu itu saya mengikuti kemah di salah satu SMA. Saya masih kelas X waktu itu. Ada sekelompok peserta kemah yang membuang sampah bekas makanan di daerah mushola. Mushola saat itu memang tampak kotor.
Remaja yang kerasukan itu bilang; "Kalian mengotori tempat saya, anak-anak saya jadi sakit, kami mau beribadah pun susah, kalian bersihkan dulu tempat kami". Saya lupa jelasnya bagaimana tapi intinya begitu. Pengalaman itu meyakinkan saya bahwa mahluk yang tidak terlihat oleh kita juga menjaga kebersihan, kita perlu menghormatinya.
Makanya saya selalu berusaha untuk membersihkan kotoran itu. Demi kebaikan bersama. Namun, saat saya akan membersihkanya saya terkejut karena kotoran sulit keluar. Berbeda dengan pembalut lain yang apabila diberi air, diinjak atau diperas kotoranya keluar. Ini tidak, kotoranya tetahan di dalam. Hal ini mungkin yang membuat kotoran tidak tembus, karena Hibis didesain dengan sangat kuat.
Saya khawatir, bagaimana akan meleburkanya dengan air. Saya pun terpaksa merobeknya, ternyata saat saya siram dengan air, Hibis yang bagian dalam ini mengeluarkan butiran seperti gel. Halus-halus, seperti jenis air juga. Padahal sebelum digunakan Hibis persis seperti pembalut biasa yang isinya seperti kapas. Hibis yang berisi yang saya sebut gel itu saya siram di kloset, dan rupanya gel tidak sangkut. Benar-benar mengikuti air, sehingga tidak perlu khawatir menyumbar kloset, tapi ingat ini isi Hibis ya, bukan tanpa disobek, bukan hibis-hibisnya dimasukan ke kloset lalu disiram.
Saya menjadi lebih cepat membersihkan pembalut itu. Tidak berlama-lama lagi di kamar mandi. Bahkan Hibis bagian luar sangatlah lembut. Cukup dibilas saja, tidak memberi bekas. Namun, saya masih membersihkanya dengan sabun agar lebih bersih dan wangi.
Apa yang saya rasakan ini membuat saya berkesa, wajarlah harga Hibis lebih melambung dari harga pembalut lain, saya merasa sangat puas dengan biaya yang saya keluarkan. Bahkan lebih. Apalagi Hibis memang dibuat untuk mencegaa kanker payudara, dan serviks. Ekstrak herbal inilah yang tidak ditemukan di pembalut yang harga 4 ribuan itu. Lagipula ini demi kesehatan. Sebagai orang yang suka makan, saya juga tidak selektif dalam memilih makanan, ini tentu berengaruh pada organ dalam tubuh kita. Berbagai makanan yang mengandung bahan-bahan berbhaya bisa saja menjadi sebab dari penyakit-penyakit itu, nauzubillahiminzalik
Namun, Hibis tidak hanya untuk anti penyakit yang menakutkan ini. Hibis juga membantu membebaskan permasalahan nyeri haid dan menghilangkan rasa tidak nyaman, mencegah iritasi, rasa gatal, dan keputihan. Saya mengetahui ini setelah membaca brosur yang saya dapatkan dari kakak saya. Hibis juga mendapatkan penghargaan piala emas, bersertifikat standar internasiona, Badan POM RI, dan Hibis telah ada di 21 negara sebelum di Indonesia.
Saya juga mencoba Panttyliner-nya. Dan, saya merasakan kenyamanan itu. Panjangnya mencapai 155mm.
Saya memang membuat blog ini untuk berjualan, namun dalam hal ini tidaklah semata-mata saya mengagumkan produk yang saya jugal demi menarik minat pembeli. Saya sudah benar-benar mencobanya, apa yang saya ceritakan ini adalah benar.
Bagi pembaca yang berminat untuk mencoba atau sudah menggunakan Hibis. Kakak saya sudah memutuskan untuk menyediakan stok yang lebih banyak. Itu dikarenakan teman-temannya merasa puas dengan Hibis. Jadi untuk calon pembeli yang berada di daerah Pontianak dan sekitarnya dapat melalui beliau, atau melalui saya.
085750632668
@nindaaditya
BB: 31201748
saya mohon maaf, menggunakan gambar ini. Saya belum sempat foto Hibis karena stok tidak ada di rumah saat ini.
Oh iya ini ada info lebih lanjut berkenaan dengan Hibis: hibisindonesia.co.id
Kamis, 26 Desember 2013
Blog Jajak? Oh Jajak! Jualan!
Ya, blog ini sengaja dibuat khusus untuk menjajak alias jualan. Jajak itu adalah kata dari bahasa Melayu Pesisir di Kabupaten Pontianak, tepatnya di Kampung Tanjung dan Mengkacak. Kata ini kerap digunakan untuk arti jualan. Biasanya orang-orang Melayu di sana akan bertanya seperti ini "Eh ape yang kau jajak tu?" artinya "Eh apa yang kamu jual?"
Hanya saja, kata ini mulai hilang. Orang lebih sering menggunakan kata jualan. Jadi alasan saya menggunakan kata Jajak untuk blog ini salah satunya untuk melestarikan bahasa Melayu Tanjong, dan memiliki sejarah tersendiri untuk saya. Si Penjajak Cilik.
Hahahaha.Saya jadi ingat, bagaimana saya berjajak dulu. Masa itu saya tinggal di Mengkacak. Saya ini dari usia 4,5 tahu gitulah sudah berjajak. Jajakan saya adalah sayur-sayuran. Terutama sayur kangkung. Rumah saya berada di pematang sawah. Pada lahan bagian depan itu ditanami berbagai sayur-mayur. Seperti; mentimun, kacang, panjang, kangkung, dan lainya saya lupa.
Mak saya yang memetik sayur dan mengikatnya, saya yang menjualnya. Saya dulu menjualnya di rumah tetangga. Ada tetangga yang sering kali saya datangi. Saya menyebutnya orang kaya. Tetangga ini selalu membeli sayur yang saya jual. Saya lupa, berapa satu ikat, tapi rasanya Rp 25. Duak Puloh Limak Ropiah. Ya, iya duak puloh limak ropiah satu ikat. Saya membawanya menggunakan baskom. Setelah dari rumah tetangga saya membawanya ke salah satu warung yang ada di kampung.
Senang sekali bisa bejajak. Bukan keuntungannya, tapi ya suka saja. Jualan habis saja itu adalah hadiah terindah dari usaha yang telah dilakukan. Hahah. Sejak kecil profesi ini sudah saya geluti. Sebelum belajar jualan sendiri, eh emang aneh ya, saya dulu memaksa untuk membawa jualan sayur itu. Ah sudah lah.
Mak saya berjualan kue roti sagu. Roti sagu itu, roti yang terbuat dari tepung sagu. Sejak saya masih dalam kandungan kalik, Mak sudah membuat roti ini, bahkan sebelum saya direncanakan untuk dibuat. Roti ini dibuat dengan waktu yang cukup lama.
Dari membelah kelapa, mengupas kulitnya, memarut, menjemur, menggongseng, lalu digiling. Giling ya, bukan dibelender. Mak ndak suka pakai belender. Halusnya beda. Lagi pula minyak dari kelapa parut itu akan beda. Wangi yang menggoda dari Roti Sagu salah satunya berasal dari kelapa giling ini.
Hemm saya suka sekali mencicipinya.
Ini baru cerita kelapa. Belum lagi, mesti membuat kole. Kole? Hahahha ya keluarganya menyebutnya kole. Kole itu tepung sagu yang dimasak dengan air. Tapi harus pandai memasaknya. Ada teknisnya. Jika salah, Kole bisa menjadi kerentel. Alias tepung menjadi beku. Tidak menjadi bubur sagu. Kerentel? Hahah itu bahasa Melayu kami lagi.
Ya suatu saat saya akan menulis lebih jelas tentang Roti Sagu. Saya cuma mau bilang karena Mak membuat roti sagu, mak jugalah yang menjualnya. Jadi saya ini sudah ikut berjualan dari kecil. Hahaha. Ini membuktikan bahwa jiwa jajak saya itu sudah ada sejak kecil. Saya tertawa sendiri menulis ini.
Sewaktu kelas 2 SD, saya bejualan es kampel. Alias kantong. Es lilin gitulah. Kantongnya memanjang, kecil, seperti paralon. Jadi diisi lalu, diikat. Ada teknis mengikatnya juga. Ikatan ini memudahkan pembeli untuk membukanya. Tari ujungnya sedikit, ikatan bisa lepas. Tapi, ikatanya sangat kuat. Kami dulu mengikatnya dari tal plastik bekas kursi. Ada tuh, kursi besi yang tempat duduknya menggunakan tali yang berasal dari plastik. Sekarang kursi itu sudah tidak ditemukan lagi. Hem, saya jadi rindu kursi itu. Ya jadi karena sudah kemajuan zaman kursi itu tidak digunakan lagi, hem kursi yang rusak itu, talinya kami ambil. Tenag talinya bersih.
Saya juga pernah bejajak Gule Tarek. Es Roti. Jambu. Betek alias pepaya. Nenas. Dan, yang paling termahsyur itu adalah Nasi Bungkos.
Wah saya sekana jadi seleb jika pagi. Saya masih di jalan saja, teman-teman SD itu sudah belari-lari mendatangi saya untuk memberli nasi. Nasi bungkos ini tidak menggunakan kertas nasi seperti sekarang yang waranya cokelat itu. Nasinya dibungkus dengan daun pisang. Dilipat berbentuk memanjang. Lalu kanan kirinya dilipat ke bawah. Jadi kawan-kawan itu lucunya, kalau membeli nasi, biasanya dibuka satu lipatan saja. Lipatan satunya lagi, dipegang. Jadi mereka jika makan, kepalanya menengadak ke atas.Seperti orang minum obat batuk sasetan, mereka memasukan nasi. Tapi tidak langsung habislah.
Di Smp saya melanjutkan bejajak nasi. Cuma saya sakitt-sakitan saat itu dan tinggal di rumah keluarga karena tidak bisa terlalu capek untuk mengengkol sepeda dari Tanjung ke Mempawah yang lebih kurang 8 KM. Sewaktu SMA saya melanjutkan profesi tersebut. Hanya berjalan pada awal kelas X saja. Saya kembali ikut keluarga, tinggal bersamanya.
Sekian cerita masa lalu berkenaan dengan profesi jajak itu.
Di blog ini saya akan mencoba untuk bejajak. Jajakannya mungkin tidak hanya makanan saja. Beberapa keluarga ada juga yang bejajak. Jadi usaha tersebut akan saya promokan juga. Buku-buku yang saya saya tulis juga akan saya jajak di sini.
Terima kasih telah membaca tentang jajak-jajakan.blogspot.com. Salam kenal saya. Penjajak!
Langganan:
Komentar (Atom)